HP Keluarkan Tablet Layar Sentuh ala Militer

3.24.2010


detick.com


EliteBook 2740p (hp)
Jakarta - HP merilis seri EliteBook terbaru untuk bisnis kecil dan menengah. Meski dari sisi desain tablet layar sentuh ini terlihat begitu stylish, namun rupanya EliteBook bertipe 2740p dan 2540p itu juga dirancang untuk memenuhi standar militer.

Tentunya yang namanya standar militer MIL-STD 810G itu sangat ketat dan keras. Tak ayal kedua ElitBook ini digadang-gadang tahan dari getaran, goncangan, debu, kelembaban, dan temperatur yang ekstrim – panas sekali atau dingin sekali.

EliteBook 2740p merupakan convertible tablet berkemampuan multitouch yang ditargetkan bagi para pebisnis di industri kesehatan, pendidikan, bagian penjualan dan bidang-bidang lainnya.

Sementara 2540p -- yang memiliki bobot mulai dari 1,5 kg -- menyasar perusahaan besar berskala enterprise global, sektor publik dan bisnis lainnya yang membutuhkan notebook kuat dan tangguh yang memiliki kinerja tinggi.

Dari sisi desain, 2740p dilengkapi dengan display LED diagonal berukuran 12,1 inci atau display outdoor view yang bersifat opsional dengan tingkat pantulan rendah serta tingkat kontras yang lebih tinggi. Untuk baterai menggunakan li-ion prismatic enam sel, yang mampu menyediakan daya hingga 5 jam.

Dikutip detikINET dari keterangan tertulis, Rabu (24/3/2010), 2540p menawarkan pilihan prosesor Intel Core dengan daya listrik standar untuk kinerja maksimal – pertama untuk notebook ultra-portable dari HP – atau berdaya listrik rendah untuk peningkatan fleksibilitas dengan optical drive atau hard drive cadangan.

EliteBook 2540p dilengkapi dengan layar LED diagonal 12,1 inci, webcam 2 megapixel opsional dengan software card reader dan Fingerprint Sensor. Produk ini juga diperkuat dengan pilihan baterai mulai dari tiga sel untuk 4 jam, hingga 9 sel yang mampu bertahan selama 10,5 jam. ( ash / faw )

3.05.2010

India Tuan Rumah APRICOT 2012, Indonesia Incar 2013



Kuala Lumpur - India akhirnya diputuskan sebagai tuan rumah Asia Pacific Regional Conference & Operation Technology (APRICOT) 2012. Keputusan itu disampaikan oleh Management Committee APRICOT Philip Smith di Kuala Lumpur, Kamis (4/3/2010).

Sementara untuk 2011 mendatang, sebagai tuan rumah adalah Hongkong yang sudah diputuskan dua tahun lalu. India dalam election tuan rumah APRICOT berhasil menyingkirkan Thailand dan Australia. Keputusan diambil melalui rapat komite member secara tertutup.

Indonesia pun sebenarnya bermaksud untuk menjadi tuan rumah, namun terlambat memasukkan proposal ke APIA (badan pelaksana APRICOT). Dan pihak Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) melalui pengurus yang terdiri dari Freddie Pinontoan, Irvan Nasrun, dan Sapto Anggoro juga telah berusaha untuk melakukan lobi. Namun menurut Program Committee Gaurab Raj Upadhaya, sudah terlambat.

Gaurab malah menawarkan APJII selaku pemangku kepentingan APRICOT untuk menjadi tuan rumah APNIC Meeting, yang akan digelar antara Agustus-September 2010. Namun bila ingin mendapatkan kepercayaan jadi tuan rumah, kesempatan terbuka untuk APRICOT 2013 atau 2014.

"Sampai sekarang belum ada yang memasukkan proposal 2013," kata Gaurab sambil menambahkan, yang sudah sempat menyampaikan info ingin jadi tuan rumah adalah China. Namun menurut Gaurab, APIA tetap berpegang pada proposal. Selama tidak ada proposal, tidak bisa dijadikan pegangan.

APJII menyadari bahwa kesempatan tertutup untuk tuan rumah 2012 berat karena sudah terlambat. Namun berharap untuk bisa jadi cadangan. Sebagai catatan, Bengalore-India pernah dinyatakan sebagai pemenang tuan rumah APRICOT 2006, namun 6 bulan menjelang pelaksanaan, tidak siap karena berbagai hal, maka APRICOT pun digelar di Perth, Australia, yang relatif sepi.

Mengenai usulan menjadi tuan rumah cadangan, Gaurab menyatakan hal itu mungkin saja. Namun tentu saja, katanya, akan ditawarkan ke lawan India dulu yakni Australia atau Thailand.

Sebagai informasi, kalaupun APJII ingin APRICOT 2013, selain Cina yang akan menjadi pesaing serius juga Thailand. Negeri Gajah Putih ini sangat berambisi, namun Gaurab tak bisa menyembunyikan bahwa para pengurus APNIC dan APIA ingin cukup tertarik dengan China karena belum pernah menggelar. Sedangkan Indonesia? "Anda punya pengalaman dan reputasi yang bagus di Bali 2007," pungkas Gaurab.