Gunung Papandayan Waspada,

10.30.2010


Bandung - Sejak April 2006 hingga saat ini Gunung Papandayan berada dalam status waspada. Seharusnya, tak ada aktivitas yang dilakukan dalam radius 1 kilometer, namun kenyataannya masih banyak kegiatan wisata yang dilakukan disana.

Hal itu diungkapkan Kepala Sub Bidang pengamatan Gunung Api, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Agus Budianto di Gedung Badan Geologi, Jalan Surapati, Sabtu (30/10/2010).

PVMBG menilai Pemprov Jabar dinilai tidak mengindahkan rekomendasi untuk menjauhi Kawah Gunung Papandayan yang berada di kabupaten Garut.

"Saat ini masih banyak kegiatan wisata disana sampai melewati batas yang direkomendasikan," ujar Agus.

Sejak April 2006 hingga saat ini, Gunung Papandayan berada dalam status Waspada. Dimana berdasarkan hasil pengamatan secara visual dan instrumental terjadi peningkatan aktivitas gunung api.

"Pada beberapa gunung api dapat terjadi erupsi, tetapi hanya menimbulkan ancaman bahaya disekitar pusat erupsi. Gas yang dikeluarkan dari juga cukup berbahaya. Ini yang harus diwaspadai," katanya.

Menurut Agus, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi tidak akan memberikan rekomendasi lagi pada Pemprov Jabar untuk mengingatkan.

"Cukup sekali. Terserah pemda masing-masing mau mengikuti atau tidak. Tapi kalau terjadi seuatu yang tidak diinginkan karena melewati batas yang direkomendasikan, jangan menyalahkan kita," tuturnya.

kakek lari dari rumah demi ngelawat MBAH MARIJAN(alm)

10.28.2010

"Nuwun sewu mbak, kulo badhe tumut takziyah Mbah Maridjan (permisi mbak, saya mau ikut ziarah Mbah Marijan)", ujar kakek yang bernama Jaiman tersebut kepada beberapa wartawan yang berada di depan ruang forensik Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta, Kamis (28/10/2010).

Jaiman mengaku harus menempuh perjalanan selama tiga jam dari rumahnya di Sentolo, Bantul, menuju Rumah Sakit Sardjito Yogyakarta. Dia pergi diam-diam karena takut pihak keluarga akan melarangnya, mengingat situasi Merapi belum sepenuhnya aman.

"Kula kesah kinten-kinten jam 05.00 WIB. Kula mboten pamit. Mangke nek pamit malah mboten diparengke (Saya langsung pergi sekitar pukul 05.00 WIB. Nggak bilang-bilang kalau bilang nanti malah nggak boleh)," tambahnya.

Dengan mengenakan kemeja batik dan berpeci, Jaiman mengaku sudah menjadi penggemar Mbah Maridjan sejak juru kunci itu menolak untuk dievakuasi bencana Merapi tahun 2006 silam. Baginya, Mbah Maridjan adalah sesosok yang sederhana, kuat, pemberani dan setia.

Jaiman juga menunjukkan beberapa foto pejabat daerah dan bintang iklan
lainnya yang ia senangi. Namun ia mengaku belum mempunyai foto Mbah Marijan sendiri.

"Nek Motoripun cekap, kulo badhe nunut. Nek mboten nggih kulo ngangge bis mawon (kalau ada kendaraan yang akan ke sana (pemakaman) saya mau ikut. Kalau tidak ada saya mau naik bis saja," tutup petani dan pembuat tempe bongkrek ini.